29 January 2019

Teracei Angen Pedalaman Hutan Bengga, Pidie.


Kita punya cerita antara dinginnya temperatur pagi, pada selah rimbun pepohonan namun sang cahaya siap menerobos untuk bisa masuk menghampiri mulut tenda kami, sementara kabut tipis memenuhi ruang lingkup itu.

Aku melihat dengan senyuman, penuh terharu bahkan terpukau dengan suasana itu. Kayu menjadi abu bahkan nyaris tak bersisa karena api membuatnya menjadi bara serta mengubah jadi abu, sebab kami jadikan api pemasak sekaligus penghangat.

Kopi panas kian lama jadi mendingin, roti keju untuk sarapan pagi kini menipis akibat tertimpa barat bawaan lainnya.

Serentak mulai sedikit kacaunya suasana, karena hujan turun tanpa pertanda sementara jas hujan tidak ikut bersama kami untuk petualang ini, namun kami punya fly sheet yang kami sulap menjadi tenda darurat. Namun hujan berhenti begitu saja, kami pun menuju lokasi yang hampir sampai.

Suara gemuruh terdengar mulai membesar, ternyata tebing tinggi yang awalnya hitam mengubah menjadi hijau karena di penuhi oleh lumut. Butiran-butiran air kecil seakan akan embun yang berterbangan.


Aku mencoba mendekatinya, karena air yang jatuh itu menyembuhkan menjadi pijakan alami yang melupakan akan kelelahan.

Loc : Bengga, Pidie.

"Dulu aku pernah berpikir bahwa selembar foto bisa menjadi pembicaraan sepanjang malam walaupun cuma editan, tapi bukan soal itu"

By : fajri ul
JE.M.09.050.UJG.

Jika ingin mengunjungi tempat itu....
Dm kami melalui IG : @mapala.je

3 comments:

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search